Latar Belakang Masalah
Terorisme, sebuah istilah yang membuat ngeri bagi sebagian besar orang yang mendengarkan, menjadi mimpi buruk bagi para pemimpin negeri, dan kadang menjadi alasan untuk menghalalkan negara-negara tertentu untuk ’menguasai’ negara lain. Lihatlah kasus negara adikuasa Amerika Serikat yang ‘menginvasi’ Negara-negara di timur tengah, kebanyakan isue terorisme menjadi pilihan alasannya.
Peristiwa 11 september yang menghancurkan pusat perekonomian dunia (WTC), peristiwa penyanderaan di hotel Bombay India, dan sabotase kereta api bawah tanah di inggris merupakan contoh konkrit yang menjadikan terorisme sebagai ancaman bagi negara manapun. Tidak memandang Negara besar atau kecil, terorisme sudah menjadi hantu yang menakutkan, bukan hanya bagi kalangan pemerintahan, akan tetapi juga bagi masyarakat dunia.
Di Indonesia, terorisme sempat malang melintang dan sangat mengganggu persendian perekonomian di tanah air beberapa tahun yang lalu. Bom bali yang meluluh latakan roda perekonomian di Bali, dimana pulau dewata ini mengandalkan dunia pariwisata sebagai tulang punggung perekonomiannya.
Pembahasan
Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan, dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia. Definisi yang lebih lengkap, turisme adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai dari transportasi; jasa keramahan - tempat tinggal, makanan, minuman; dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan, dll. Dan juga menawarkan tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan, dan pengalaman baru dan berbeda lainnya.
Banyak negara, bergantung banyak dari industri pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai oleh Organisasi Non-Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal.
Wisatawan memiliki beberapa motivasi dalam melakukan aktivitas wisatanya. Beberapa diantaranya: kebutuhan fisik (mengembalikan keugaran fisik dan psikis setelah bekerja selama 70 jam seminggu atau 50 minngu dalam setahun, mereka menyisakan sedikit waktu untuk istirahat), safety (kebutuhan untuk beristirahat ditempat yang nyaman dan aman tanpa gangguan pekerjaan dan berbagai urusan lain), belonging (kebutuhan untuk berkunjung ke tempat-tempat yang mempunyai kenangan), esteem (menghargai hasil karya atau keindahan alam di luar lingkungannya), dan untuk tahu dan mengerti (to know and uderstand) orang perlu untuk mengetahui dan mengerti tentang dunia luar secara lebih dekat.
Melihat beberapa motivasi tersebut, terorisme merupakan isu yang kontraproduktif bagi industri pariwisata. Kita lihat kasus seperti bom bali yang menimpa legian dan kuta, dua pusat keramaian di pulau ini. Setelah terjadinya pengebomban wisatawan yang berkunjung ke pulau dewata ini menurun dengan drastis. Hal ini mengingat terancamnya pemenuhan layanan kebutuhan wisatwan, yakni safety atau rasa nyaman dan keselamatan.
Wisatawan akan menunda kedatanggannya ke negara dengan ancaman terorisme yang tinggi, atau mereka akan berwisata ke tempat wisata alternatif yang lebih menjanjikan keselematan bagi mereka. Hal ini merupakan sebuah peluang bagi negara-negara yang mampu menjaga ’stabilitas’ negaranya yang mampu memberikan rasa nyaman dan aman, disamping terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan lain sebagaimana tersebut di atas.
Kejadian sabotase oleh terorisme di sebuah negara merupakan berkah bagi negara lain yang memiliki karakter tempat wisata yang mirip atau hampir sama dengan karakter tempat wisata di negara tersebut. Sebagai contoh, pada umumnya motivasi wisatwan yang berkunjung ke India, mereka cenderung termotivasi untuk lebih tahu dan mengenal budaya india yang sangat kental dengan nuansa keagamaan dan budaya asia selatan, disamping motivasi safety atau kenyamanan dan keselamatan. Wisatawan pada umumnya akan memilih negara dengan potensi wisata budaya yang tinggi sebagaimana ditawarkan oleh India. Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman budaya tentunya menjadi salah satu alternatif tersebut.
Melihat contoh kasus tersebut, wisatawan tidak akan serta merta memilih Indonesia sebagai negara tujuan wisatanya. Wisatawan perlu mengetahui terlebih dahulu tentang jaminan keselamatan dirinya, apa yang ditawarkan dan apa pula pelayanan yang disediakan oleh Indonesia. Sehingga promosi dan kampanye tentang potensi wisata di Indonesia juga perlu disampaikan kepada konsumen pariwisata.
Kesimpulan
Terorisme merupakan mimpi buruk bagi industri pariwisata di sebuah negara. Akan tetapi terorisme tersebut juga merupakan isu yang positif bagi negara lain yang memiliki potensi pariwisata. Bagi negara dengan isue terorisme yang tinggi, wisatawan tentunya enggan untuk berkunjung. Ditambah lagi bagi wisatawan dari negara yang pemerintahnya mengeluarkan kebijakan ’travel warning’ untuk melindungi warga negaranya. Hal ini juga mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan dari negara tersebut untuk mengunjungi sebuah negara yang di keai ’travel warning’ tersebut.
Jaminan keselamatan, penyediaan jasa pelayanan di barengi dengan tersediannya obyek wisata dan kenyamanan wisatawan senantiasa menjadi tuntutan wisatawan yang harus dipenuhi oleh sebuah negara yang mengandalkan pariwisata sebagai salah satu sumber pendapatannya. Hal ini harus dilakukan secara sinergis oleh pemerintah bersama dengan stake holder pariwisata.
Promosi dan langkah-langkan strategis yang ditempuh sebuah negara dalam menangkal terorisme perlu untuk disampaikan kepada konsumen industri pariwisata. Hal ini untuk menyampaikan pesan bahwa negara tersebut telah mengani terorisme dengan sungguh-sungguh, sehingga menawarkan situasi yang aman dan nyaman.
DAFTAR PUSTAKA
David, Fred R, Manajemen Strategis: Konsep, edisi ketujuh, edisi indonesia, PT Prenhalindo, jakarta 2002
Hunger, David J dan Wheelen, Thomas E.: Manajemen Strategis, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2001
Mill, Robert Christine: Tourism: The Interational Business, Prentice-Hall, Inc. 1990
Nawawi, Hadari: Manajemen Stratejik Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2003.
Thomas, Howard, Pollock, Timothy and Gorman, Philip: Global Strategic Analysis: Framework and Approaches. Academy of management executive, vol. 13, No 1, Tahun 1999.
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Februari 11, 2009
Desember 15, 2008
TIPS BELANJA MURAH DI KOTA WISATA
anda mungkin tidak menyadari, terkadang kita belanja ketika berwisata tanpa terencana. ketika sampai tempat wisata, melihat souvenir yang menarik anda kemudian membelanjakan uang anda tanpa berfikir panjang... souvenir merupakan monument memori akan sebuah tempat yang pernah kita datangi. belanja souvenir pada umumnya merupakan pengeluaran yang tidak direncana, padahal terkadang menipiskan dompet atau mengurangi digit saldo dalam rekening kita. bagaimana anda merencanakan pembelian souvenir memengaruhi cost yang kita keluarkan ketika kita berwisata. apabila anda tidak merencanakan, bersiaplah uang yang ada dalam kantong anda tidak akan tersisa, bila anda merencanakannya akan tetapi kurang matang, juga tidak akan banyak pengaruhnya.
tips belanja souvenir:
1. cari referensi souvenir unik yang menjadi ciri khas dari objek wisata yang akan kita tuju, termasuk harga (pertimbangkan kemungkinan kenaikan harga)
2. pilih jenis souvenir yang akan dibeli sebelum berangkat
3. apabila anda belanja di gerai souvenir, ajaklah temen anda sebagai "guide" karena biasanya gerai souvenir memberi tip kepada guide berupa prosentase pembelian klien-nya. (bisa antara 10 s/d 40%)
4. bawa cash money secukupnya, karena jumlah uang di kantong mempengaruhi nafsu anda untuk berbelanja.
5. biasanya pedagang souvenir memiliki harga standar yang merupakan kesepakatan dalam asosiasinya, akan tetapi masih bisa ditawar. keahlian anda menawar menentukan jumlah uang yang akan dibelanjakan.
6. pilih barang yang benar-benar berkualitas dan merupakan ciri khas objek wisata tersebut
7. usahakan untuk tidak membeli di lokasi wisata, tapi di tempat lain yang menjual souvenir yang sama (misal, mall, pasar tradisional, atau bisa jadi di pasar klithikan justru kita temui barang yang unik)
tip belanja tersebut hanya bermanfaat bila anda mampu mengelola nafsu belanja anda.
semoga bermanfaat
anda mungkin tidak menyadari, terkadang kita belanja ketika berwisata tanpa terencana. ketika sampai tempat wisata, melihat souvenir yang menarik anda kemudian membelanjakan uang anda tanpa berfikir panjang... souvenir merupakan monument memori akan sebuah tempat yang pernah kita datangi. belanja souvenir pada umumnya merupakan pengeluaran yang tidak direncana, padahal terkadang menipiskan dompet atau mengurangi digit saldo dalam rekening kita. bagaimana anda merencanakan pembelian souvenir memengaruhi cost yang kita keluarkan ketika kita berwisata. apabila anda tidak merencanakan, bersiaplah uang yang ada dalam kantong anda tidak akan tersisa, bila anda merencanakannya akan tetapi kurang matang, juga tidak akan banyak pengaruhnya.
tips belanja souvenir:
1. cari referensi souvenir unik yang menjadi ciri khas dari objek wisata yang akan kita tuju, termasuk harga (pertimbangkan kemungkinan kenaikan harga)
2. pilih jenis souvenir yang akan dibeli sebelum berangkat
3. apabila anda belanja di gerai souvenir, ajaklah temen anda sebagai "guide" karena biasanya gerai souvenir memberi tip kepada guide berupa prosentase pembelian klien-nya. (bisa antara 10 s/d 40%)
4. bawa cash money secukupnya, karena jumlah uang di kantong mempengaruhi nafsu anda untuk berbelanja.
5. biasanya pedagang souvenir memiliki harga standar yang merupakan kesepakatan dalam asosiasinya, akan tetapi masih bisa ditawar. keahlian anda menawar menentukan jumlah uang yang akan dibelanjakan.
6. pilih barang yang benar-benar berkualitas dan merupakan ciri khas objek wisata tersebut
7. usahakan untuk tidak membeli di lokasi wisata, tapi di tempat lain yang menjual souvenir yang sama (misal, mall, pasar tradisional, atau bisa jadi di pasar klithikan justru kita temui barang yang unik)
tip belanja tersebut hanya bermanfaat bila anda mampu mengelola nafsu belanja anda.
semoga bermanfaat
Desember 12, 2008
Pariwisata, Lokomotif Pembangunan
Kepariwisataan di Kota Yogyakarta merupakan salah satu lokomotif perekonomian daerah, sehingga potensi dan peluang pariwisata senantiasa terus dikembangkan dan ditingkatkan keberadaannya. Titik berat pengembangan pariwisata di Kota Yogyakarta adalah pariwisata yang berbasis budaya. Hal ini berarti bahwa segala aktivitas kepariwisataan dibingkai dalam nuansa budaya (yang selalu dinamis), khususnya budaya kraton budaya Jawa, dan budaya lain yang berkembang di Kota Yogyakarta. Pemaknaan budaya ini meliputi kesenian, peninggalan heritage (peninggalan bersejarah), nilai-nilai, adat istiadat, tradisi dan kehidupan sosial kemasyarakatan yang berkembang di Kota Yogyakarta.
Yogyakarta adalah kota yang memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang sampai saat ini masih tetap hidup di tengah-tengah masyarakat. Keunggulan tersebut menjadikan Kota Yogyakarta banyak dikunjungi wisatawan. Pengembangan kepariwisataan di Kota Yogyakarta mengedepankan konsep pariwisata yang berbudaya mengingat begitu besarnya potensi budaya. Selain itu, potensi obyek wisata, sarana prasarana yang memadai, serta letak geografis yang strategis merupakan aset yang jika dikelola secara baik dapat mendukung keberadaan Kota Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata yang terkemuka.
Sebagai kota tujuan wisata, Kota Yogyakarta senantiasa berusaha untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya ke Kota Yogyakarta. Hal ini dilakukan dengan berbagai langkah seperti: promosi pariwisata, peningkatan kualitas SDM pelaku wisata, pengiriman misi kesenian, menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai pihak di dalam maupun luar negeri dan peningkatan pelayanan kepada wisatawan.
Yogyakarta adalah kota yang memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang sampai saat ini masih tetap hidup di tengah-tengah masyarakat. Keunggulan tersebut menjadikan Kota Yogyakarta banyak dikunjungi wisatawan. Pengembangan kepariwisataan di Kota Yogyakarta mengedepankan konsep pariwisata yang berbudaya mengingat begitu besarnya potensi budaya. Selain itu, potensi obyek wisata, sarana prasarana yang memadai, serta letak geografis yang strategis merupakan aset yang jika dikelola secara baik dapat mendukung keberadaan Kota Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata yang terkemuka.
Sebagai kota tujuan wisata, Kota Yogyakarta senantiasa berusaha untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya ke Kota Yogyakarta. Hal ini dilakukan dengan berbagai langkah seperti: promosi pariwisata, peningkatan kualitas SDM pelaku wisata, pengiriman misi kesenian, menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai pihak di dalam maupun luar negeri dan peningkatan pelayanan kepada wisatawan.
kota jogja
Kota Yogyakarta memiliki beberapa predikat, antara lain sebagai
Kota Perjuangan, Kota Pelajar, Kota Budaya, dan Kota Wisata. Apabila kota
Yogyakarta dikembangkan sesuai dengan predikat-predikat tersebut serta
dikelola dengan baik, diharapkan akan berdampak positif pada
kesejahteraan masyarakatnya.
Yogyakarta adalah kota yang memiliki keanekaragaman seni dan
budaya yang sampai saat ini masih tetap hidup di tengah-tengah
masyarakat. Keunggulan tersebut menjadikan Kota Yogyakarta banyak
dikunjungi wisatawan. Pengembangan kepariwisataan di Kota Yogyakarta
mengedepankan konsep pariwisata yang berbudaya mengingat begitu
besarnya potensi budaya. Selain itu, potensi obyek wisata, sarana
prasarana yang memadai, serta letak geografis yang strategis merupakan
aset yang jika dikelola secara baik dapat mendukung keberadaan Kota
Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata yang terkemuka.
Visi pembangunan Kota Yogyakarta tahun 2007–2011 sebagaimana
yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Kota Yogyakarta 2007 – 2011 adalah Kota Yogyakarta sebagai
kota pendidikan berkualitas, kota pariwisata berbasis budaya dan
kota pusat pelayanan jasa yang berwawasan lingkungan. Dalam bidang
kepariwisataan, visi tersebut menentukan sasaran pembangunan tahun
2007–2011 yaitu sebagai kota pariwisata berbasis budaya dengan
dukungan keragaman obyek dan daya tarik wisata. Untuk mencapai visi
dan sasaran tersebut, perlu dibuat pentahapan melalui tema pembangunan
tahunan. Pada tahun 2008 tematik pembangunan Kota Yogyakarta adalah
terwujudnya Kota Yogyakarta sebagai kota pariwisata berbasisbudaya dengan keragaman atraksi dan daya tarik wisata. Dengan
demikian pada tahun 2008 ini penekanan prioritas pengembangan
kepariwisataan adalah penganekaragaman atraksi dan daya tarik wisatanya
dengan berbasis pada kekuatan budaya yang dimilikinya sebagai asset
andalan kepariwisataan Kota Yogyakarta.
Kota Perjuangan, Kota Pelajar, Kota Budaya, dan Kota Wisata. Apabila kota
Yogyakarta dikembangkan sesuai dengan predikat-predikat tersebut serta
dikelola dengan baik, diharapkan akan berdampak positif pada
kesejahteraan masyarakatnya.
Yogyakarta adalah kota yang memiliki keanekaragaman seni dan
budaya yang sampai saat ini masih tetap hidup di tengah-tengah
masyarakat. Keunggulan tersebut menjadikan Kota Yogyakarta banyak
dikunjungi wisatawan. Pengembangan kepariwisataan di Kota Yogyakarta
mengedepankan konsep pariwisata yang berbudaya mengingat begitu
besarnya potensi budaya. Selain itu, potensi obyek wisata, sarana
prasarana yang memadai, serta letak geografis yang strategis merupakan
aset yang jika dikelola secara baik dapat mendukung keberadaan Kota
Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata yang terkemuka.
Visi pembangunan Kota Yogyakarta tahun 2007–2011 sebagaimana
yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Kota Yogyakarta 2007 – 2011 adalah Kota Yogyakarta sebagai
kota pendidikan berkualitas, kota pariwisata berbasis budaya dan
kota pusat pelayanan jasa yang berwawasan lingkungan. Dalam bidang
kepariwisataan, visi tersebut menentukan sasaran pembangunan tahun
2007–2011 yaitu sebagai kota pariwisata berbasis budaya dengan
dukungan keragaman obyek dan daya tarik wisata. Untuk mencapai visi
dan sasaran tersebut, perlu dibuat pentahapan melalui tema pembangunan
tahunan. Pada tahun 2008 tematik pembangunan Kota Yogyakarta adalah
terwujudnya Kota Yogyakarta sebagai kota pariwisata berbasisbudaya dengan keragaman atraksi dan daya tarik wisata. Dengan
demikian pada tahun 2008 ini penekanan prioritas pengembangan
kepariwisataan adalah penganekaragaman atraksi dan daya tarik wisatanya
dengan berbasis pada kekuatan budaya yang dimilikinya sebagai asset
andalan kepariwisataan Kota Yogyakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
